Bagotong royong kito basamo, mambangun nagari nan kito cinto…

Penggalan lirik lagu Minang di atas menemani perjalanan saya keluar Bandara Internasional Minangkabau di Padang Pariaman, Sumatera Barat. Di trip Sumbar ini, saya berenam dengan rekan-rekan dari Jakarta.

Karena jam landing kami di PDG sudah memasuki “waktu lapar bagian Minang”, kami langsung menuju salah satu warung di sekitar hotel yang berada di kawasan bypass Bandara Minangkabau. Soto Padang, Lontong Gulai, dan Teh Talu jadi sajian ”selamat datang” kami di Minang. Yang paling unik dari ketiga menu ini adalah Teh Talu, semacam teh tarik dengan topping adonan telor. Sepintas bikin saya inget ca phe trung ala Vietnam di Hanoi.

Soto Padang dengan nasi putih dan kerupuk pinky khas Minang
Soto Padang dengan nasi putih dan kerupuk pinky khas Minang

Setelah checkin hotel dan makan siang, kami meluncur ke kota Padang. Perjalanan dari Padang Pariaman ke pusat kota Padang kurang lebih 30 menit saja. Karena masih punya banyak waktu longgar, kami singgah di Museum Adityawarman Padang yang di dalamnya berisi benda-benda peninggalan mulai dari jaman pra sejarah, Kerajaan Pagaruyung, hingga era perjuangan Kemerdekaan. Berbagai benda budaya Sumatera Barat juga dipamerkan di museum ini, termasuk jasa sewa baju adat Minangkabau.

Sedikit belajar sejarah dan lebih tau budaya Minang di Museum Adityawarman Padang
Sedikit belajar sejarah dan lebih tau budaya Minang di Museum Adityawarman Padang

Setelah dari museum, tujuan kami berikutnya adalah Pantai Air Manis. Entah dari mana julukan “air manis” ini berasal, padahal dimana-mana air laut di pantai kan asin. Tapi, Pantai Air Manis ini bisa dibilang adalah pantai paling terkenal di Padang karena cerita legenda Malin Kundang. Tepat di sisi kiri muara, terdapat batu karang yang berbentuk menyerupai manusia, konon inilah perwujudan Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu.

Kira-kira Uda Amik ketawa karena apa ya di depan "batu Malin Kundang" ini?
Kira-kira Uda Amik ketawa karena apa ya di depan “batu Malin Kundang” ini?

Padang memang kota yang punya banyak cerita. Tak hanya Malin Kundang, tapi juga kisah Siti Nurbaya. Kami pun menuju jembatan yang identik dengan kisah perjodohan Siti Nurbaya dan Datuk Maranggih ini. Jembatan, sungai, dan pemandangan di sekitarnya sih tak terlalu istimewa, tapi karena punya keterkaitan dengan kisah legendaris Siti Nurbaya, jadilah jembatan ini cukup populer, sepopuler jagung bakar manis dan pisang epe yang dijual pedagang di sepanjang trotoar jembatan ini.

Ooohhh ini toh Jembatan Siti Nurbaya... trus mana perahunya Datuk Maringgih?
Ooohhh ini toh Jembatan Siti Nurbaya… trus mana perahunya Datuk Maringgih?

Sebelum kembali ke hotel, satu porsi Sate Padang yang disajikan dengan lontong dan bumbu kacang menjadi menu penutup yang sempurna. Kami berhenti di Warung Sate Padang Danguang-danguang. Porsi dan bumbu kacangnya mantab. Sate padang Danguang-danguang ini salah satu lokasinya di jalan utama antara Padang menuju Pariaman, bisa kamu coba saat perjalanan dari atau menuju bandara saat liburan di Padang.

Hari kedua di Padang, kami melakukan perjalanan overland menuju Bukittinggi. Perlu waktu kurang lebih tiga jam untuk sampai di kota di kawasan pegunungan ini. Perjalanan yang cukup melelahkan memang, ditambah hujan deras di pagi hari. Resiko traveling di awal Desember sih, terima nasib kena hujan dan mendung sepanjang hari.

Perjalanan hari kedua menuju Bukit Tinggi
Perjalanan hari kedua menuju Bukit Tinggi

Di tengah jalan, kami berhenti sejenak di Air Terjun Lembah Anai. Lokasinya tepat di tepi kelok jalan, jadi agak macet kalo banyak mobil dan bis wisatawan parkir. Air terjun Lembah Anai ini cocok untuk sedikit menghilangkan penat dan menghirup udara segar saat perjalanan dari Padang menuju Bukittinggi.

Air terjun pinggir jalan, Lembah Anai
Air terjun pinggir jalan, Lembah Anai

Perjalanan menuju Bukittinggi ini bikin mata segar karena pemandangan hijau berbukit-bukit dengan beberapa jalur rel kereta api yang menurut saya pantas dihidupkan kembali sebagai kereta wisata. Kami sempat berhenti di salah satu “rest area” sederhana di Padang Panjang yang ada penjual Lamang Pisang dan Kawa Daun. Lamang Pisang ini mirip dengan yang pernah saya coba di perjalanan Medan menuju Danau Toba, tapi bedanya di Padang ini selain berisi beras juga ada buah pisangnya. Rasanya legit dan manis.

Lamang pisang, ketan hitam, dan teh talu di Padang Panjang
Lamang pisang, ketan hitam, dan teh talu di Padang Panjang

Sajian Lamang Pisang ini makin sempurna dengan minuman Kawa Daun, kopi yang terbuat dari daun kopi, bukan biji kopi. Seperti halnya teh talu, Kawa Daun juga bisa diberi topping adonan telor. Hmmm… sedikit bau gosong ala daun yang dibakar jadi satu dengan aroma adonan telor. Pengen coba? Datanglah ke Padang Panjang.

Kami tiba di Bukittinggi sekitar tengah hari dan spot pertama yang dituju tentu saja ikon wisata kota ini, Jam Gadang. Menara setinggi 26 meter ini dibangun pada masa Kolonial Belanda dan jamnya didatangkan langsung dari Belanda. Konon, mesin penggerak jam ini hanya digunakan pada dua jam di dunia, yaitu jam Big Ben di London dan Jam Gadang di Bukittinggi. Wahhh, jadi emang gak berlebihan kalo orang juga menyebut Jam Gadang ini sebagai kembarannya Big Ben.

Spot wajib di Bukit Tinggi
Spot wajib di Bukit Tinggi

Beberapa obyek wisata lain yang bisa dikunjungi di kota Bukittinggi antara lain Benteng Fort De Kock, Lobang Jepang, dan Panorama Ngarai Sianok. Dari view point Panorama Pantai Sianok ini traveler bisa menikmati pemandangan jurang Sianok dengan kedalaman sekitar 100 meter dan membentang sepanjang 15 kilometer. Konon ngarai ini merupakan jurang yang memisahkan Pulau Sumatera menjadi dua bagian memanjang (patahan) dengan aliran sungai Sianok di bawahnya.

Ngarai Sianok, satu dari banyak bentang alam yang cakep di Sumatera Barat
Ngarai Sianok, satu dari banyak bentang alam yang cakep di Sumatera Barat

Kami juga sempat masuk ke dalam Lobang Jepang, sebuah goa yang dibangun oleh tentara Jepang sekitar tahun 1944. Lobang Jepang di Bukittinggi ini merupakan salah satu lubang buatan tentara Jepang yang terpanjang di Asia, panjangnya mencapai lebih dari 6 kilometer dengan beberapa pintu keluar yang tembus di sekitar Ngarai Sianok.

Di dalam Lobang Jepang yang konon terkenal mistis dan serem
Di dalam Lobang Jepang yang konon terkenal mistis dan serem

Di dalam goa, terdapat sekitar 21 lorong kecil yang fungsinya bermacam-macam, mulai dari ruang amunisi, ruang pertemuan, pintu pelarian, ruang penyergapan, penjara, dapur, hingga ruang khusus untuk membuang mayat tahanan. Terkesan seram memang, tapi dengan panduan guide, kamu bisa mendapatkan cerita panjang lebar tentang sejarah goa Jepang ini, dan tentunya tidak akan tersesat di dalam ruangan goa yang berbentuk menyerupai labirin.

Ngobrolin masa depan di replika Tembok China, Ngarai Sianok
Ngobrolin masa depan di replika Tembok China, Ngarai Sianok
Memandang Ngarai Sianok dari puncak replika Tembok China
Memandang Ngarai Sianok dari puncak replika Tembok China

Dari pintu keluar Lobang Jepang ini kamu bisa jalan kaki kurang lebih 25 menit menuju Janjang Koto Gadang yang kerap disebut sebagai kembaran Tembok Besar China atau “Mini Great Wall of China”. Jajang Koto Gadang ini memiliki panjang sekitar 1 km yang menghubungkan Kota Bukittinggi disekitaran Goa Jepang dengan Koto Gadang Kabupaten Agam. Ada dua titik view point di antara ratusan anak tangga di tembok China ala Bukittinggi ini yang pastinya worh it untuk dikunjungi dengan pemandangan Ngarai Sianok dan perbukitan di sekitar Bukittinggi.

Foto keluarga di Rumah Adat Baanjuang, Bukit Tinggi
Foto keluarga di Rumah Adat Baanjuang, Bukit Tinggi

Basambuang ko bagian duo…

Ada pertanyaan atau komentar?